|
|
| Menu Utama | ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
|
|
| Hari Ini | |||
|---|---|---|---|
|
| Login Form |
|---|
| Pengunjung saat ini |
|---|
| Saat ini ada 4 tamu online |
Pendidikan
Prof Dr. Sayyid Agil Alydrus “Kunci Kesukssesan Adalah Tekun Membaca dan Berfikir” | Prof Dr. Sayyid Agil Alydrus “Kunci Kesukssesan Adalah Tekun Membaca dan Berfikir” |
| Penulis : irfan | |
| Senin, 08 Juni 2009 | |
|
Suralaga,DA;
Prof.DR.H.Said
Agil Al Idrus,M.Si, saat menjadi narasumber pada seminar pendidikan yang
dilaksananakan oleh Forum Integral di kampus STMIK Syaikh Zainuddin NW Anjani,
Sabtu (30/5., mengungkapkan bahwa salah
satu motivasi untuk meraih kesuksesan adlah dengan lebih tekun membaca dan
berpikir dan dibantu lewat do’a. karena
bagaimanapun juga pendidikan itu memberikan perubahan secara bertahap, yang
tidak mengerti menjadi mengerti, yang tidak paham menjadi paham, oleh sebab itu
yang terpenting itu adalah do’a dan kemauan kita untuk belajar. “Makanya kita
jangan malas untuk membaca buku dan berfikir agar kita memiliki keilmuan secara
berkesinambungan dalam kerangka memajukan bangsa kita dan untuk mengangkap IPM
nya yang masuk jauh tertinggal dari bangsa-bangsa
Sementara
nara lainnya yaitu PD II FKIP
UNRAM-Mahrus (Kandidat Doktor), mengatakan,setelah UU Sisdiknas 2003,UU Nomor 9
tahun 2009 tentang badan hukum pendidikan (UU BHP) adalah produk hukum
pendidikan.
Menurut UU
itu,hanya BHP pemerintah pada tingkat pendidikan tinggi yang kepentingannya
diwakili langsung dan ada ditangan menteri pendidikan nasional (pasal 21 ayat
3). Pendidikan dasar dan menengah ada dalam kendali kepala daerah. Besarnya
kewenangan daerah dipertegas aturan bahwa pemerintah daerah turut menanggung
pembiayaan pendidikan dasar dan menengah,tetapi pendanaan pendidikan tinggi
hanya pada pemerintah pusat dan masyarakat (pasal 41). “Desain seperti itu
rawan, karena tidak semua kepala daerah berkompeten dan berkomitmen memajukan
kesejahteraan rakyat, termasuk dalam pendidikan,” ujarnya.
Disamping dua pembicara dari UNRAM tersebut pada acara
seminar itu hadir sebagai pembicara juga,
Kadis Pendidikan Lombok Timur Drs M Suruji. Dalam pemaparannya Suruji
menjelaskan bahwa sat ini Indonesia masih tertinggal di nomor urut 111 dari
segi IPM kalah dengan negara Malaysia, Thailand dan negara Asia lainnya.
Sementara Untuk IPM Lotim masih berada di urutan ke 7 dari 10 Kabuupaten/ Kota
di NTB ini
“Salah satu factor yang menyebabkan rendahnya IPM di
Kabupaten Lombok Timur (Lotim) adalah tingkat pendidikan masyarakat yang masih
rendah. Indikatornya terlihat dari angka melek huruf yang mencapai 82,75% dan
rata-rata lama sekolah 6,2 tahun,” tandasnya.
Berdasarkan kondisi obyektif diatas, kata Kadis
Pendidikan, maka tidaklah salah bila
pemerintah memperioritaskan pembangunan pendidikan pada 3 sasaran pokok, yaitu
: Peningkatan pemerataan dan perluasan akses, peningkatan mutu, relevansi dan
daya saing, dan penguatan tata kelola, akuntabilitas dan pencitaran public.
Bila pembangunan pendidikan berhasil, tentu akan
berdampak pada dua komponen IPM lainnya.
“Dengan kemampuan membaca yang memadai diharapkan akan
berdampak pada pola hidup sehat, meningkatkan produktivitas kerja yang
selanjutnya akan berdampak kepada daya beli yang semakin tinggi,’ ucapnya.
Di kabupaten
Lotim, berdasarkan data tahun 2008/2009, tingkat pencapaian terhadap 3 sasaran
pokok pembangunan pendidikan belum dapat dibanggakan. Pencapaian tingkat
pemerataan dan perluasan akses pendidikan masih diperlukan upaya serius dan
koordinasi semua pihak, karena berdasarkan hasil penyisiran pada akhir tahun
2006, masih terdapat sekurang-kurangnya 9.434 anak usia 7-15 tahun yang tidak
bersekolah yang sebagian besar disebabkan karena kemiskinan (masalah ekonomi)
dan akses sekolah yang jauh dengan tempat tinggal peserta didik. Angka
DO dan mengulang kelas dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Tingkat
kesadaran dan partisipasi masyarakat yang sangat variatif, ada sebagian
masyarakat yang kesadaran akan pentingnya pendidikan masih rendah dan ada yang
sangat tinggi. Jumlah sarana dan prasarana di tempat tertentu masih kurang,
kontribusi pendidikan non formal belum optimal, baik yang dikelola melalui
Dinas Pendidikan maupun Kandepag.
Di bidang mutu, relevansi dan daya saing nampaknya juga
demikian, karena keadaan sumberdaya manusia pengendali mutu, dalam hal ini guru
masih cukup memprihatinkan. Dari 5.040 guru SD masih terdapat 2.191 orang
(43,47%) yang berijazah dibawah D2, 2.502 orang (49,64%) berijazah D2 dan hanya
347 orang (6,89%) yang berkualifikasi sarjana S1. Pada jenjang SMP, dari 1000
orang guru SMP yang ada, masih terdapat 64 oarng (6,40%) yang berijazah dibawah
D3, 238 orang (23,8%) berijazah D3, 706 orang (70,60%) yang berkualifikasi S1
dan 4 orang (0,4%) yang berkualifikasi S2. Dengan kualifikasi guru diatas
terutama pada jenjang SD, Kabupaten Lotim masih harus berjuang untuk
meningkatkan kualifikasi pendidikan guru agar memenuhi persyaratan minimal yang
dipersyaratkan,yaitu S1/D4 (UU No.14 tahun 2005 tentang guru dan dosen). (Apri-Fen). |