• Bahasa Indonesia
  • العربية / Arabic
  • English
Menu Utama
Halaman Depan
Biografi pendiri
Hizib Nahdlatul Wathan
Wasiat Renungan Masa
ke - NW - an
Pendidikan
Sosial
Dakwah
tanya jawab agama
mutiara hikmah
pustaka islami
Buku Tamu
Galeri Foto
peta situs
Hari Ini
Kamis

26

Rabi'ul Awwal

1431 HIJRIAH
Login Form





Kata Sandi hilang?
Pengunjung saat ini
Saat ini ada 4 tamu online
  KELUARGA BESAR NAHDLATUL WATHAN MENGUCAPKAN, SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1430 H, MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN                                                                                                                                                                                                                          Selamat Datang di situs resmi Nahdlatul Wathan. Organisasi Islam terbesar di Nusa Tenggara Barat. Untuk dapat mengakses bahasa arab, gunakan browser mozilla firefox                                                                                                                                                                                                                          welcome to the official sites of Nahdlatul Wathan. The biggest Islamic organization in North West Nusa, for Arabic language please use the mozilla firefox browsers.
Halaman Depan arrow Pendidikan arrow Prof Dr. Sayyid Agil Alydrus “Kunci Kesukssesan Adalah Tekun Membaca dan Berfikir”
Prof Dr. Sayyid Agil Alydrus “Kunci Kesukssesan Adalah Tekun Membaca dan Berfikir”
Penulis : irfan   
Senin, 08 Juni 2009

Suralaga,DA;

Prof.DR.H.Said Agil Al Idrus,M.Si, saat menjadi narasumber pada seminar pendidikan yang dilaksananakan oleh Forum Integral di kampus STMIK Syaikh Zainuddin NW Anjani, Sabtu (30/5., mengungkapkan bahwa  salah satu motivasi untuk meraih kesuksesan adlah dengan lebih tekun membaca dan berpikir dan  dibantu lewat do’a. karena bagaimanapun juga pendidikan itu memberikan perubahan secara bertahap, yang tidak mengerti menjadi mengerti, yang tidak paham menjadi paham, oleh sebab itu yang terpenting itu adalah do’a dan kemauan kita untuk belajar. “Makanya kita jangan malas untuk membaca buku dan berfikir agar kita memiliki keilmuan secara berkesinambungan dalam kerangka memajukan bangsa kita dan untuk mengangkap IPM nya yang masuk jauh tertinggal dari bangsa-bangsa Asia lainnya,” ajak Prof.

Disamping itu lanjut Guru Besar UNRAM yang juga Koordinator Tim Aksesor Sertifikasi Guru Se-NTB menegaskan bahwa Dunia pendidikan NTB sat ini masih berada di nomor urut buncit, dari 33 provinsi di Indonesia, oleh karenannya tidak ada alas an pemda untuk tidak lebih serius dalam mengurus dunia pendidikan, agar mampu bersaing dengan daerah-daerah maju lainnya.

Sementara nara  lainnya yaitu PD II FKIP UNRAM-Mahrus (Kandidat Doktor), mengatakan,setelah UU Sisdiknas 2003,UU Nomor 9 tahun 2009 tentang badan hukum pendidikan (UU BHP) adalah produk hukum pendidikan.

Menurut UU itu,hanya BHP pemerintah pada tingkat pendidikan tinggi yang kepentingannya diwakili langsung dan ada ditangan menteri pendidikan nasional (pasal 21 ayat 3). Pendidikan dasar dan menengah ada dalam kendali kepala daerah. Besarnya kewenangan daerah dipertegas aturan bahwa pemerintah daerah turut menanggung pembiayaan pendidikan dasar dan menengah,tetapi pendanaan pendidikan tinggi hanya pada pemerintah pusat dan masyarakat (pasal 41). “Desain seperti itu rawan, karena tidak semua kepala daerah berkompeten dan berkomitmen memajukan kesejahteraan rakyat, termasuk dalam pendidikan,” ujarnya.

Disamping dua pembicara dari UNRAM tersebut pada acara seminar itu hadir sebagai pembicara juga,  Kadis Pendidikan Lombok Timur Drs M Suruji. Dalam pemaparannya Suruji menjelaskan bahwa sat ini Indonesia masih tertinggal di nomor urut 111 dari segi IPM kalah dengan negara Malaysia, Thailand dan negara Asia lainnya. Sementara Untuk IPM Lotim masih berada di urutan ke 7 dari 10 Kabuupaten/ Kota di NTB ini

“Salah satu factor yang menyebabkan rendahnya IPM di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) adalah tingkat pendidikan masyarakat yang masih rendah. Indikatornya terlihat dari angka melek huruf yang mencapai 82,75% dan rata-rata lama sekolah 6,2 tahun,” tandasnya.

Berdasarkan kondisi obyektif diatas, kata Kadis Pendidikan,  maka tidaklah salah bila pemerintah memperioritaskan pembangunan pendidikan pada 3 sasaran pokok, yaitu : Peningkatan pemerataan dan perluasan akses, peningkatan mutu, relevansi dan daya saing, dan penguatan tata kelola, akuntabilitas dan pencitaran public.

Bila pembangunan pendidikan berhasil, tentu akan berdampak pada dua komponen IPM lainnya.

“Dengan kemampuan membaca yang memadai diharapkan akan berdampak pada pola hidup sehat, meningkatkan produktivitas kerja yang selanjutnya akan berdampak kepada daya beli yang semakin tinggi,’ ucapnya.

 Di kabupaten Lotim, berdasarkan data tahun 2008/2009, tingkat pencapaian terhadap 3 sasaran pokok pembangunan pendidikan belum dapat dibanggakan. Pencapaian tingkat pemerataan dan perluasan akses pendidikan masih diperlukan upaya serius dan koordinasi semua pihak, karena berdasarkan hasil penyisiran pada akhir tahun 2006, masih terdapat sekurang-kurangnya 9.434 anak usia 7-15 tahun yang tidak bersekolah yang sebagian besar disebabkan karena kemiskinan (masalah ekonomi) dan akses sekolah yang jauh dengan tempat tinggal peserta didik. Angka DO dan mengulang kelas dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Tingkat kesadaran dan partisipasi masyarakat yang sangat variatif, ada sebagian masyarakat yang kesadaran akan pentingnya pendidikan masih rendah dan ada yang sangat tinggi. Jumlah sarana dan prasarana di tempat tertentu masih kurang, kontribusi pendidikan non formal belum optimal, baik yang dikelola melalui Dinas Pendidikan maupun Kandepag.

Di bidang mutu, relevansi dan daya saing nampaknya juga demikian, karena keadaan sumberdaya manusia pengendali mutu, dalam hal ini guru masih cukup memprihatinkan. Dari 5.040 guru SD masih terdapat 2.191 orang (43,47%) yang berijazah dibawah D2, 2.502 orang (49,64%) berijazah D2 dan hanya 347 orang (6,89%) yang berkualifikasi sarjana S1. Pada jenjang SMP, dari 1000 orang guru SMP yang ada, masih terdapat 64 oarng (6,40%) yang berijazah dibawah D3, 238 orang (23,8%) berijazah D3, 706 orang (70,60%) yang berkualifikasi S1 dan 4 orang (0,4%) yang berkualifikasi S2. Dengan kualifikasi guru diatas terutama pada jenjang SD, Kabupaten Lotim masih harus berjuang untuk meningkatkan kualifikasi pendidikan guru agar memenuhi persyaratan minimal yang dipersyaratkan,yaitu S1/D4 (UU No.14 tahun 2005 tentang guru dan dosen). (Apri-Fen).