Kebiadapan dan
keganasan tentara NICA yang sangat terkenal itu menimbulkan kemarahan Bangsa Indonesia, sehingga Bangsa Indonesia bangkit dan melakukan perlawanan
di mana-mana. Tuan Guru kiai Haji Zainudin Abdul Majid bersama murid, santri
dan guru-guru Madrasah NWDI dan NBDI membentuk suatu gerakan yang diberi nama
‘’Gerakan Al Mujahidin’’.Gerakan Al Mujahidin ini selanjutnya bergabung
dengangerakan rakyat pembela kemerdekaan Indonesia yang ada di pulau Lombok
seperti Gerakan banteng Hitam, Gerakan Bambu Runcing, BKR, Api dan lain-lainnya
untuk bersama-sama membela dan mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan bangsa
Indonesia.Dalam pada itu, akibat
dari perbuatan-perbuatan yang dilakukanpenghianatan-penghianatan bangsa dan negara yang berjiwa budak dan
menjadi kaki tangan NICA, Madrasah NWDI dan NBDI diblacklis sebagai markas
gelap yang menentang penjajah.Beberapa orang guru NWDI dan NBDI ditangkap dan
dijobloskan ke dalam penjara.Di antaranya TGHAhmad Rifa’i Abdul Majid (adik kandung TGKH Muhammad Zainudin Abdul
Majid ) dipenjarakan Ambon Maluku, TGH Muhammad Yusi Muhsin Aminullah
dipenjarakan di Praya Lombok Tengah dan beberapa orang lainnya dikirim
kepenjara di Bali. Di samping itu, dalam suatu sidang resmi yang di adakan
NICA, Madrasah NWDI dan NBDI diputuskan
untuk ditutup. Namun sebelum keputusan itu sempat dilaksanakan, terjadilah
pristiwa 8 Juni 1946, penyerbuanTanksi
Militer NICA di Selong di bawah pimpinan adik kandungTuan Guru Kiai Haji Muhammad Zainudin Abdul
Majid, yaitu TGH Muhammad Faishal Abdul Majid. Dalam pristiwa ini gugurlah TGH
Muhammad Faishal Abdul Majid dan dua orang santri, yaitu Sayyid Muhammad Shaleh
dan Abdullah sebagai Syuhada’ kesuma bangsa yang menjadi pencipta dan penghias
Taman Makam Pahlawan Rinjani Selong Lombok Timur. Dengan terjadinya
pristiwa 8 Juni 1946 tersebut, keputusan NICA untuk menutup Madrasah NWDI dan
NBDI tidak jadi dilaksanakan.Akan tetapi ancaman dan intimidasi dari pihak NICA
bersama kaki tangannya semakin gencar da
langsung ditujukan kepada pribadi Tuan Guru Haji Muhammad Zainudin Abdul
Majid,namun berkat perlindungan dan
pertolongan Allah Swt, semua perbuatan biadab itu gagal total, sesuai dengan
pengesahan Allah Swt di dalam Al Qur’an surat Ali’ Imran ayat 54: yang artinya:
“ Mereka membuat tipu daya, dan Allah membahas tipu daya mereka
itu. Dan Allah sebaik-baik pembahas tipu daya ”.
Di dalam menghadapi
setiap ancaman dan tantangan yang datang bertubi-tubi itu, Tuan Guru Kiai Haji
Muhammad ZainuddinAbdul Majid sebagai
pejuang tidak pernah gentar dan tidak pernah mundur walaupun setapak dari gelanggang
perjuangan. Beliau tetap tegak dan tegar dengan semangat yang berkobar-kobar.