|
Silsilah Pendiri NW TGKH.M.ZAINUDDIN ABDUL MADJID |
|
الكاتب/ admin
|
|
Selasa, 07 Oktober 2008 |
|
الصفحة 5 من 5
Pejuang dan Perintis Kemerdekaan
Sejak kembali dari Tanah Suci Makkah sampai akhir hayatnya
Maulanasysyaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid aktif menggunakan
sebagian besar waktunya untuk membangun mental spiritual masyarakat
melalui madrasah, kegiatan dakwah, majlis taklim, pengajian umum di
masjid-masjid dan surau-surau di berbagai kota dan desa di Pulau Lombok.
Usia senja bagi beliau tidaklah menjadi kendala untuk tetap berjuang
memajukan agama, nusa dan bangsa yang tercinta ini. Beliau tetap
berjuang dan membangun sesuai dengan hajat pembangunan dan perjuangan
yang terus meningkat. Itulah sebabnya beliau sering memberikan motivasi
kepada murid-muridnya untuk dapat mengikuti jejak langkah perjuanga,
semangat pantang menyerah, pengambdian dan dedikasi beliau yang sulit
ada tandingannya itu. Tegasnya “ Tiada hari tanpa perjuangan “ itulah
yang terlihat dan terkesan dalam seluruh sisi kehidupan beliau.
Pantaslah kalau beliau sering mengatakan : “Usia saya telah senja,
kendatipun demikian saya ingin seperti matahari yang selalu berputar
dari timur ke barat, bukan hany dalam waktu 24 jam, tetapi telah
berjuta-juta tahun, tanpa mengenal terlambat walau sedetikpun. Saya
tidak rela kemerdekaan yang ditebus dengan lautan darah para syuhada’
itu disia-siakan tetapi harus diisi dengan pembangunan terus menerus
menurut kamampuan dan keahlian masing- masing meratalah kemakmuran,
keadilan, dan kebenaran di seluruh persada tanah air tercinta ini. “
Demikian jiwa dan semangat perjuangan beliau yang tidak kenal lelah,
lebih-lebih dalam memperjuangkan tegaknya iman dan taqwa di persada
tanah air Indonesia yang berdasarkan pancasila ini.
Dalam perjuangan membebaskan bangsa dan rakyat Indonesia dari
cengkraman penjajah Belanda dan Jepang, Maulanasysyaikh TGKH. Muhammad
Zainuddin Abdul Madjid menjadikan Madrasah NWDI dan NBDI sebagai pusat
pergerakan kemerdekaan. Jiwa perjuangan, patriotisme, dan semangat
pantang menyereh tetap beliau kobarkan di dada murid-murid, santri dan
guru-guru Madrasah NWDI dan NBDI. Oleh karena itu, tidak mengherankan
kalau kedua bangsa penjajah itu selalu berusaha untuk menutup dan
membubarkan Madrasah NWDI dan NBDI.
Pada zaman penjajahan Jepang, Maulanasysyaikh TGKH. Muhammad Zainuddin
Abdul Madjid berkali-kali dipanggil untuk segera menutup dan
membubarkan kedua Madrasah tersebut dengan alasan bahwa kedua Madrasah
ini digunakan sebagai tempat menyusun taktik dan strategi untuk
menghadapi bangsa penjajah tersebut. Disamping dianggap sebagai wadah
yang berindikasi bangsa asing karena diajarkannya Bahasa Arab di kedua
Madrasah ini……………..
Kepada pemerintah Pascis Jepang beliau mengemukakan beberapa
penjelasan. Diantaranya bahwa Bahasa Arab adalah bahasa Al-Quran,
bahasa Islam, dan bahasa umat Islam, bahasa yang dipakai dalam
melaksanakan ibadah. Ibadah umat Islam menjadi rusak kalau tidak
menggunakan Bahasa Arab. Itulah sebabnya Bahasa Arab diajarkan di
Madrasah NWDI dan NBDI. Di kedua madrasah ini juga dididik calon-calon
“ Penghulu dan Imam “ yang sangat diperlukan untuk mengurus dan
mengatur peribadatan dan perkawinan umat islam.
Setelah mendengar penjelasan beliau, segeralah pemerintah Jepang yang
ada di Pulau Lombok mengirim laporan ke pihak atasannya di Singaraja
Bali. Tidak lama kemudian terbitlah Surat Keputusan di Singaraja dalam
bentuk kawat surat, yang berisi antara lain bahwa Madrasah NWDI dan
NBDI dibenarkan untuk tetap dibuka dengan ketentuan supaya nama
Madrasah tersebut diubah menjadi “ Sekolah Penghulu dan Imam”.
Kemudian setelah beberapa bulan kemerdekaan Indonesia diproklamirkan,
mendaratlah tentara NICA di Pulau Lombok. NICA adalah singkatan dari
Netherlands Indies Civil Administrations, yaitu Pemerintah Sipil
Belanda yang bergabung dalam Angkatan Bersenjata Negara-Negara Sekutu
di masa Perang Dunia II.
|