|
Arti Tamyiz
Tamyiz ialah isim manshub yang berfungsi menjelaskan dzat yang samar, seperti dalam contoh perkataan di bawah ini:
= Zaid mencucurkan keringat. (kata keringat itu menjelaskan keadaan diri Zaid);
= Bakar menurunkan lemak tubuhnya;
= Muhammad baik orangnya;
= aku telah membeli dua puluh orang pelayan atau budak;
= aku telah memiliki sembilan puluh ekor kambing;
= ayah Zaid lebih mulia daripada kamu;
= dan wajahnya (parasnya) lebih cantik daripada kamu.
Tamyiz
tidak akan terjadi, kecuali harus dengan isim nakirah dan tidak akan
terjadi pula, kecuali sesudah kalam tamam atau sempurna (seperti halnya hâl).
Kata nazhim:
Definisi tamyiz ialah, isim yang di-nashab-kan dan menjelaskan keglobalan nisbat atau keglobalan dzat jenis tertentu.
Na'at
Na'at (sifat) ialah lafazh yang mengikuti kepada makna lafazh yang diikutinya, baik dalam hal rafa', nashab, khafadh, ma'rifat maupun nakirah-nya, (seperti) Anda mengatakan: (Zaid yang berakal telah berdiri). (aku telah melihat Zaid yang berakal). (aku telah bersua dengan Zaid yang berakal). (jar)
Maksudnya: Dalam bab-bab terdahulu telah dijelaskan lafazh-Iafazh yang di-i'rab-i dengan amil-nya masing-masing, seperti fa'il oleh fi'il-nya, khabar oleh mubtada'-nya dan sebagainya. Dalam bab ini akan dijelaskan lafazh-lafazh yang di-i'rab-i dengan cara mengikuti kepada lafazh lain, yaitu na'at, 'athaf, taukidbadal. dan
Na'at menurut istilah ahli Nahwu ialah:
Tabi'
yang menyempurnakan makna lafazh yang diikutinya dengan menjelaskan
salah satu diantara sifat-sifatnya, atau sifat yang ber-ta'alluq (berkaitan) kepadanya.
Contoh yang menjelaskan sifat matbu'-nya (yang diikutinya):
= Zaid yang berakal telah datang. Berakal itu merupakan sifat zaid.
Contoh lain yaitu firman Allah SWT:
= Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (al-Fatihah: 1).
Contoh na'at yang menjelaskan sifat lafazh yang ber-ta'alluq kepada matbu'-nya, seperti:
= Telah datang Abdullah (hamba Allah) Yang Maha Mulia.
Lafazh merupakan sifat Allah, bukan sifat orang yang bernama Abdullah. Kecuali kalau lafazh itu di-rafa'-kan, maka maksudnya menjadi sifat Abdullah.
Na'at itu harus disesuaikan dengan man'ut-nya dalam hal i'rab, naqirah atau ma'rifat-nya, mudzakkar atau muannats-nya, mufrad atau jamak-nya, seperti contoh di bawah ini:
= laki-laki yang berilmu telah datang;
= Hindun yang berilmu itu telah datang;
= Zaid-Zaid yang berilmu itu telah datang;
= dua Zaid yang berilmu itu telah datang;
= Zaid yang berilmu itu telah datang.
Kata nazhim:
Na'at itu adakalanya me-rafa'-kan isim yang mudhmar (disembunyikan) yang kembali kepada man'ut (lafazh yang diikuti) nya, atau me-rafa'-kan kepada isim yang muzhhar (ditampakkan).
Contoh yang me-rafa'-kan kepada isim yang mudhmar, seperti:
= Zaid yang berakal itu telah datang.
Lafazh , itu me-rafa'-kan kepada isim dhamir, taqdir-nya adalah sebab isim mufrad yang kembali kepada .
= kaum muslim yang saleh itu telah datang.
Pada lafazh terdapat dhamir yang di-rafa'-kan, yaitu yang kembali kepada
Contoh yang me-rafa'-kan kepada isim yang muzhhar, seperti:
= Zaid yang isterinya sakit itu telah datang. Lafazh itu isim muannatsrafa'-kan lafazh sebab menjadi fa'il-nya. Lafazh muannats dan lafazh pun muannats pula. yang me-
Kata nazhim:
Bagian yang pertama dari kedua bagian itu ikutkanlah man'ut (lafazh yang diikuti) nya pada empat hal diantara sepuluh.
Pada salah satu diantara segi i'rab, baik dalam hal rafa', khafazh atau nashab-nya.
Demikian pula dalam hal kesatuan, ke-mudzakar-an dan selain keduanya, juga dalam hal ma'rifat dan nakirah-nya.
IKUTI PELAJARAN SELANJUTNYA PADA EDISI BERIKUTNNYA .............
|