• Bahasa Indonesia
  • العربية / Arabic
  • English
Main Menu
Halaman Depan
Biografi pendiri
Hizib Nahdlatul Wathan
Wasiat Renungan Masa
ke - NW - an
Pendidikan
Sosial
Dakwah
Utama
tanya jawab agama
mutiara hikmah
pustaka islami
Buku Tamu
Galeri Foto
peta situs
Hari Ini
Sabtu

26

Ramadhan

1431 HIJRIAH
Login Form





هل فقدت كلمة المرور؟
Pengunjung saat ini
يوجد الآن 8 ضيوف يتصفحون الموقع
JUser Login





هل فقدت كلمة المرور؟
  KELUARGA BESAR NAHDLATUL WATHAN MENGUCAPKAN, SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1430 H, MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN                                                                                                                                                                                                                          Selamat Datang di situs resmi Nahdlatul Wathan. Organisasi Islam terbesar di Nusa Tenggara Barat. Untuk dapat mengakses bahasa arab, gunakan browser mozilla firefox                                                                                                                                                                                                                          welcome to the official sites of Nahdlatul Wathan. The biggest Islamic organization in North West Nusa, for Arabic language please use the mozilla firefox browsers.
Halaman Depan arrow pustaka islami arrow NAHWU
NAHWU
الكاتب/ irfan   
Sabtu, 12 Juli 2008

Nahwu

Merupakan ilmu yang membahas kaidah-kaidah dalam bahasa Arab dan sangat penting bagi anda yang ingin memahami Al-Quran atau mempelajari Bahasa Arab
Pembahasannya Meliputi :

:: Taukid
:: Tamyiz
:: Na'at
:: Naibul fa' il
:: Munada (seruan)
:: Mubtada dan Khabar
:: Tanda I' rab
:: Mashdar
:: Maf ' ul bih
:: Laa
:: Istitsna
:: Isim yang di Nashab-kan
:: Isim - isim yang di Rafa'-kan
:: Isim yang dijarkan
:: Isim Nakirah
:: Isim Ma'rifat
:: I' rab
:: Haal
:: Fi' il - Fi' il
:: Fa' il
:: Badal
:: Kalam
:: Zharaf zaman dan Zharaf makan
:: 'Athaf


Taukid

Arti Taukid

Tabi' (lafazh yang mengikuti) yang berfungsi untuk melenyapkan anggapan lain yang berkaitan dengan lafazh yang di-taukid-kan.

Contoh:

= Zaid telah datang sendiri.

Lafazh berkedudukan sebagai taukid yang mengukuhkan makna Zaidun, sebab kalau tidak memakai , maka ada kemungkinan yang datang itu utusan Zaid, bukan Zaid-nya, dan sebagainya.

Taukid itu mengikuti kepada lafazh yang di-taukid-kan dalam hal rafa', nashab, khafadh dan ta'rif (ke-ma'rifat-an) nya.

Taukid itu dengan memakai lafazh-lafazh yang telah ditentukan, yaitu:

  1. Lafazh nafsu (diri), seperti dalam contoh: (Zaid telah datang sendiri)
  2. Lafazh 'ain (diri), seperti dalam contoh: (Zaid telah datang sendiri)
  3. Lafazh kullu (semua), seperti dalam contoh: (kaum itu telah datang semuanya)
  4. Lafazh ajma'u (seluruh), seperti dalam contoh: (kaum itu telah datang seluruhnya)
  5. Lafazh yang mengikuti ajma'u, yaitu: akta'u, abta'u, absha'u (maknanya sama dengan ajma'u atau ajma'în), seperti dalam contoh berikut:

Faedah memakai lafazh-lafazh itu ialah, untuk menambah maksud taukid saja agar tidak diragukan.

Seperti perkataan:

= Zaid telah berdiri sendiri;

= aku telah melihat kaum itu semuanya;

= aku telah bersua dengan seluruh kaum itu.

Kata Nazhim:

Boleh pada isim dikukuhkan dan lafazh yang mengukuhkan harus mengikuti lafazh yang dikukuhkannya dalam semua bentuk i'rab dan ta'rif (ma'rifat)nya, tidak di-nakirah-kan karena ia terbebas dari lafazh yang mengukuhkan.

Lafazh taukid yang terkenal ada empat, yaitu: nafsu, 'ain, kullu dan ajma'u.

Selain lafazh itu adalah mengikuti ajma'u, yaitu akta'u, abta'u, dan absha'u,


 

Tamyiz
 

Arti Tamyiz

Tamyiz ialah isim manshub yang berfungsi menjelaskan dzat yang samar, seperti dalam contoh perkataan di bawah ini:

= Zaid mencucurkan keringat. (kata keringat itu menjelaskan keadaan diri Zaid);

= Bakar menurunkan lemak tubuhnya;

= Muhammad baik orangnya;

= aku telah membeli dua puluh orang pelayan atau budak;

= aku telah memiliki sembilan puluh ekor kambing;

= ayah Zaid lebih mulia daripada kamu;

= dan wajahnya (parasnya) lebih cantik daripada kamu.

 

Tamyiz tidak akan terjadi, kecuali harus dengan isim nakirah dan tidak akan terjadi pula, kecuali sesudah kalam tamam atau sempurna (seperti halnya hâl).

Kata nazhim:

Definisi tamyiz ialah, isim yang di-nashab-kan dan menjelaskan keglobalan nisbat atau keglobalan dzat jenis tertentu.


Na'at


Na'at (sifat) ialah lafazh yang mengikuti kepada makna lafazh yang diikutinya, baik dalam hal rafa', nashab, khafadh, ma'rifat maupun nakirah-nya, (seperti) Anda mengatakan: (Zaid yang berakal telah berdiri). (aku telah melihat Zaid yang berakal). (aku telah bersua dengan Zaid yang berakal). (jar)

Maksudnya: Dalam bab-bab terdahulu telah dijelaskan lafazh-Iafazh yang di-i'rab-i dengan amil-nya masing-masing, seperti fa'il oleh fi'il-nya, khabar oleh mubtada'-nya dan sebagainya. Dalam bab ini akan dijelaskan lafazh-lafazh yang di-i'rab-i dengan cara mengikuti kepada lafazh lain, yaitu na'at, 'athaf, taukidbadal. dan

Na'at menurut istilah ahli Nahwu ialah:

Tabi' yang menyempurnakan makna lafazh yang diikutinya dengan menjelaskan salah satu diantara sifat-sifatnya, atau sifat yang ber-ta'alluq (berkaitan) kepadanya.

Contoh yang menjelaskan sifat matbu'-nya (yang diikutinya):

= Zaid yang berakal telah datang. Berakal itu merupakan sifat zaid.

Contoh lain yaitu firman Allah SWT:

= Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (al-Fatihah: 1).

Contoh na'at yang menjelaskan sifat lafazh yang ber-ta'alluq kepada matbu'-nya, seperti:

= Telah datang Abdullah (hamba Allah) Yang Maha Mulia.

Lafazh merupakan sifat Allah, bukan sifat orang yang bernama Abdullah. Kecuali kalau lafazh itu di-rafa'-kan, maka maksudnya menjadi sifat Abdullah.

Na'at itu harus disesuaikan dengan man'ut-nya dalam hal i'rab, naqirah atau ma'rifat-nya, mudzakkar atau muannats-nya, mufrad atau jamak-nya, seperti contoh di bawah ini:

  • = laki-laki yang berilmu telah datang;
  • = Hindun yang berilmu itu telah datang;
  • = Zaid-Zaid yang berilmu itu telah datang;
  • = dua Zaid yang berilmu itu telah datang;
  • = Zaid yang berilmu itu telah datang.

Kata nazhim:

Na'at itu adakalanya me-rafa'-kan isim yang mudhmar (disembunyikan) yang kembali kepada man'ut (lafazh yang diikuti) nya, atau me-rafa'-kan kepada isim yang muzhhar (ditampakkan).

Contoh yang me-rafa'-kan kepada isim yang mudhmar, seperti:

= Zaid yang berakal itu telah datang.

Lafazh , itu me-rafa'-kan kepada isim dhamir, taqdir-nya adalah sebab isim mufrad yang kembali kepada .

= kaum muslim yang saleh itu telah datang.

Pada lafazh terdapat dhamir yang di-rafa'-kan, yaitu yang kembali kepada

Contoh yang me-rafa'-kan kepada isim yang muzhhar, seperti:

= Zaid yang isterinya sakit itu telah datang. Lafazh itu isim muannatsrafa'-kan lafazh sebab menjadi fa'il-nya. Lafazh muannats dan lafazh pun muannats pula. yang me-

Kata nazhim:

Bagian yang pertama dari kedua bagian itu ikutkanlah man'ut (lafazh yang diikuti) nya pada empat hal diantara sepuluh.

Pada salah satu diantara segi i'rab, baik dalam hal rafa', khafazh atau nashab-nya.

Demikian pula dalam hal kesatuan, ke-mudzakar-an dan selain keduanya, juga dalam hal ma'rifat dan nakirah-nya.



IKUTI PELAJARAN SELANJUTNYA PADA EDISI BERIKUTNNYA .............